Neil Amstrong pernah mengatakan “One small step for man, one giant leap for mankind” saat menapakan kakinya di permukaan bulan. Yang sering terlupakan ada banyak perempuan yang berperan pada saat itu agar pendaratan ke bulan berjalan sukses.
Diantaranya, Dorothy Johnson Vaughan (matematikawan Afrika-Amerika), Mary Winston Jackson (matematikawan dan teknisi ruang angkasa Afrika-Amerika), Katherine Coleman Goble (matematikawan Afrika-Amerika yang menghitung mekanika orbital); Margaret Heafield Hamilton (ilmuwan komputer Amerika, insinyur sistem, dan pemilik bisnis); Judith Love Cohen (insinyur dan penulis ruang angkasa Amerika. Cohen bekerja sebagai insinyur listrik pada rudal Minuteman, stasiun landasan sains untuk Teleskop Luar Angkasa Hubble, Pelacakan dan Satelit Relai Data, dan Program Antariksa Apollo); Dolores B. "Dee" O'Hara (perawat luar angkasa pertama bagi para astronot pertama NASA, meletakkan fondasi ke bidang keperawatan luar angkasa).
Setelah sekian nama perempuan yang berperan dalam menyukseskan program ruang antariksa, Ellen Ochoa menjadi seorang astronaut Amerika dan wanita Hispanik pertama yang pergi ke luar angkasa. Ellen Ochoa menjadi seorang direktur di Pusat Antariksa Lyndon B. Johnson pada tahun 2013 hingga 2018.
Dalam konteks Indonesia, perempuan telah berperan dalam ruang publik yang memiliki tidak hanya kesetaraan tetapi memimpin bangsa pada masanya. Misalnya, Shima adalah ratu penguasa Kerajaan Kalingga yang terletak di pantai utara Jawa Tengah sekitar tahun 674 M, lahir tahun 611 M di sekitar Musi Banyuasin, Sumatra Selatan dan isteri Raja Kartikeyasinga yang menjadi raja Kalingga (648 - 674) M. Ketika suaminya, Raja Kartikeyasinga meninggal, Sang Ratu naik tahta Kerajaan Kalingga dengan gelar Sri Maharani Mahissasuramardini Satyaputikeswara.
Masa kepemimpinan Ratu Shima menjadi masa keemasan bagi Kalingga sehingga membuat Raja-raja dari kerajaan lain segan, hormat, kagum sekaligus penasaran. Masa-masa itu adalah masa keemasan bagi perkembangan kebudayaan apapun. Agama Budha juga berkembang secara harmonis, sehingga wilayah di sekitar kerajaan Ratu Shima juga sering disebut Di Hyang (tempat bersatunya dua kepercayaan Hindu Budha).
Dalam hal bercocok tanam Ratu Shima juga mengadopsi sistem pertanian dari kerajaan kakak mertuanya. Ia merancang sistem pengairan yang diberi nama Subak. Kebudayaan baru ini yang kemudian melahirkan istilah Tanibhala, atau masyarakat yang mengolah mata pencahariannya dengan cara bertani atau bercocok tanam. Kerajaan Kalingga beratus tahun yang lalu bersinar terang emas penuh kejayaan.
Kemudian, Ratu Kalinyamat atau Retna Kencana (RK), puteri Sultan Trenggono, raja Demak (1521-1546). Ratu Kalinyamat menjadi bupati Jepara. Seperti bupati Jepara sebelumnya (Pati Unus), RK bersikap anti terhadap Portugis. Pada tahun 1550 RK mengirim 4.000 tentara Jepara dalam 40 buah kapal memenuhi permintaan sultan Johor untuk membebaskan Malaka dari kekuasaan bangsa Eropa itu. Pasukan Jepara itu kemudian bergabung dengan pasukan Persekutuan Melayu hingga mencapai 200 kapal perang. Pasukan gabungan tersebut menyerang dari utara dan berhasil merebut sebagian Malaka.
Pada tahun 1565, RK memenuhi permintaan orang-orang Hitu di Ambon untuk menghadapi gangguan bangsa Portugis dan kaum Hative. Ratu Kalinyamat telah menunjukkan bahwa dirinya seorang wanita yang gagah berani. Bahkan Portugis mencatatnya sebagai rainha de Japara, senhora poderosa e rica, de kranige Dame, yang berarti "Ratu Jepara seorang wanita yang kaya dan berkuasa, seorang perempuan pemberani".
Keumalahayati, adalah salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Ayahnya bernama Laksamana Mahmud Syah. Kakeknya dari garis ayahnya adalah Laksamana Muhammad Said Syah, putra dari Sultan Salahuddin Syah yang memerintah sekitar tahun 1530–1539 M. Adapun Sultan Salahuddin Syah adalah putra dari Sultan Ibrahim Ali Mughayat Syah (1513–1530 M), yang merupakan pendiri Kerajaan Aceh Darussalam. Pada tahun 1585–1604, Keumalahayati memegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana Panglima Rahasia dan Panglima Protokol Pemerintah dari Sultan Saidil Mukammil Alauddin Riayat Syah IV.
Malahayati memimpin 2.000 orang pasukan Inong Balee (janda-janda pahlawan yang telah syahid) berperang melawan kapal-kapal dan benteng-benteng Belanda tanggal 11 September 1599 sekaligus membunuh Cornelis de Houtman dalam pertempuran satu lawan satu di geladak kapal. Dia mendapat gelar Laksamana untuk keberaniannya ini, sehingga ia kemudian lebih dikenal dengan nama Laksamana Malahayati.
Cut Nyak Dhien (Tjoet Nja' Dhien) seorang Pahlawan Nasional Indonesia dari Aceh yang berjuang melawan Belanda pada masa Perang Aceh. Setelah wilayah VI Mukim diserang, dan tewasnya Ibrahim Lamnga (Suami Cut Nyak Dhien) di Gle Tarum pada tanggal 29 Juni 1878 kemudian menyeret Cut Nyak Dhien lebih jauh dalam perlawanannya terhadap Belanda.
Kemudian setelah Teuku Umar gugur, membuat Cut Nyak Dhien berjuang sendirian di pedalaman Meulaboh bersama pasukan kecilnya. Usia Cut Nyak Dien yang saat itu sudah relatif tua serta kondisi tubuh yang digrogoti berbagai penyakit seperti encok dan rabun. Keberadaan Cut Nyak Dhien yang dianggap masih memberikan pengaruh kuat terhadap perlawanan rakyat Aceh serta hubungannya dengan pejuang Aceh yang belum tertangkap.
Cut Nyak Meutia adalah seorang perempuan kelahiran 1870 asal Keureuto, Pirak, Aceh Utara, yang juga dikenang sebagai pahlawan nasional. Cut Meutia dikenal sebagai pahlawan wanita yang tangguh dan cinta kepada agama dan bangsa. Cut Meutia merupakan seorang anak Uleebalang Teuku Ben Daud dan ibunya Cut Jah. Dia dididik oleh kedua orang tua untuk tidak boleh menyerah pada penjajahan Belanda kala itu.
Cut Meutia juga dikenal sebagai sosok wanita yang rela mati syahid. Cut Meutia mengorbankan nyawanya demi membela agama. Selain itu, Cut Meutia kecil dididik untuk memahami agama dan ilmu berpedang. Semasa hidup, Cut Meutia dikenal sebagai ahli pengatur strategi pertempuran. Taktiknya kerap memporak-porandakan pertahanan militer Belanda
Martha Christina Tiahahu dilahirkan di Abubu Nusalaut pada tanggal 4 Januari 1800 merupakan anak sulung dari Kapitan Paulus Tiahahu dan masih berusia 17 tahun ketika mengikuti jejak ayahnya memimpin perlawanan di Pulau Nusalaut. Pada waktu yang sama Kapitan Pattimura sedang mengangkat senjata melawan kekuasaan Belanda di Saparua. Perlawanan di Saparua menjalar ke Nusalaut dan daerah sekitarnya.
Dengan mendampingi sang ayah dan memberikan kobaran semangat kepada pasukan Nusalaut untuk menghancurkan musuh, Marta Christina telah memberi semangat kepada kaum perempuan dari Ulath dan Ouw untuk turut mendampingi kaum laki-laki di medan pertempuran. Baru di medan ini Belanda berhadapan dengan kaum perempuan fanatik yang turut bertempur. Pertempuran semakin sengit ketika sebuah peluru pasukan rakyat mengenai leher Meyer, Vermeulen Kringer mengambil alih komando setelah Meyer diangkat ke atas kapal Eversten.
Raden Adjeng Kartini (lahir di Jepara, Hindia Belanda, 21 April 1879) adalah seorang tokoh Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia. Kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi. Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, karena Kartini melihat bahwa perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah. Perhatiannya tidak hanya semata-mata soal emansipasi wanita, tetapi juga masalah sosial umum.
Kartini melihat perjuangan wanita agar memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas. Pemikiran-pemikiran Kartini yang tertuang dalam surat-suratnya Door Duisternis tot Licht yang arti harfiahnya "Dari Kegelapan Menuju Cahaya" (atau Habis Gelap Terbitlah Terang versi Armijn Pane seorang sastrawan Pujangga Baru), juga menjadi inspirasi bagi tokoh-tokoh kebangkitan nasional Indonesia.
Raden Dewi Sartika (Déwi Sartika; lahir di Cicalengka, Bandung, 4 Desember 1884) adalah tokoh perintis pendidikan untuk kaum wanita. Dewi Sartika diakui sebagai Pahlawan Nasional oleh Pemerintah Indonesia pada tahun 1966. Dewi Sartika membuat sekolah yang bernama Sekolah Isteri di Pendopo Kabupaten Bandung. Sekolah tersebut kemudian direlokasi ke Jalan Ciguriang dan berubah nama menjadi Sekolah Kaoetamaan Isteri pada tahun 1910.
Pada tahun 1912, sudah ada sembilan sekolah yang tersebar di seluruh Jawa Barat, lalu kemudian berkembang menjadi satu sekolah tiap kota maupun kabupaten pada tahun 1920. Pada September 1929, sekolah tersebut berganti nama menjadi Sekolah Raden Dewi. Dewi Sartika dianugerahi gelar Orde van Oranje-Nassau pada ulang tahun ke-35 Sekolah Kaoetamaan Isteri sebagai penghargaan atas jasanya dalam memperjuangkan pendidikan
Surastri Karma Trimurti (lahir di Kabupaten Boyolali, 11 Mei 1912), yang dikenal sebagai S. K. Trimurti atau S.K. Trimoerti, adalah wartawan, penulis dan guru Indonesia, yang mengambil bagian dalam gerakan kemerdekaan Indonesia terhadap penjajahan oleh Belanda. S.K. Trimurti kemudian menjabat sebagai menteri tenaga kerja pertama di Indonesia dari tahun 1947 sampai 1948 di bawah Perdana Menteri Indonesia Amir Sjarifuddin.
R.A. Sutartinah atau Nyi Hajar Dewantara adalah pendiri Taman Siswa dan pemimpin perguruan Taman Siswa sampai akhir hayatnya. Sebagai istri Ki Hajar Dewantara atau Suwardi Suryaningrat ia penah mengalami pasang surut perjuangan, baik di dalam bidang politik maupun bidang pendidikan. Ia pun ikut mendampingi Ki Hajar Dewantara dalam pembuangan ke negeri Belanda sejak 13 September 1913 - 26 Juli 1919. Ia tak pernah absen dalam tiap perjuangan Ki Hajar kecuali dalam hal yang khusus.
Nyi Hajar Dewantara berperan besar dalam mendorong Ki Hajar mengalihkan perjuangannya dari aktivis politik menjadi perintis pendidikan modern tanah air. Sutartinah mendorong hak atas pendidikan laki-laki dan perempuan yang setara, akan tetapi juga masih mengamini adanya pembagian tugas atau peran gender yaitu perempuan sebagai pemangku keturunan yang akan berkecimpung pada dunia domestik. Sutartinah lebih memainkan peran sebagai sumbadra atau perempuan lemah lembut.
Atas inisiatif Sutartina (Nyi Hajar Dewantara) terhimpunlah 7 organisasi yang kemudian mensponsori Kongres Perempuan I di Yogyakarta. Walaupun Nyi Hajar adalah pendiri dan pengambil inisiatif utama Kongres Perempuan Indonesia I, Ia hanya berkedudukan sebagai anggota biasa. Di dalam kongres Nyi Hajar mendapat kesempatan berpidato pada 23 Desember dalam penyampaian pokok-pokok pikiran kongres dengan judul ‘Adab Perempuan’. Nyi Hajar dan para pemimpin Taman Siswa lainnya di Yogyakarta melancarkan ‘Gerilya Pendidikan’.
Saat Pemerintah Hindia-Belanda mengeluarkan ordonanasi “sekolah liar” dan menuntup kegiatan sekolah Taman Siswa. Oleh Pemerintah Kolonial, Taman Siswa dianggap Sekolah Liar. Namun di bawah arahan Nyi Hajar, guru Taman Siswa mendatangi setiap rumah rakyat untuk mengajar siswa-siswa di rumah masing-masing. Dalam hal seorang guru ditangkap karena tindakan mengajar itu, sukarelawan akan datang menggantikan tugas guru yang tertangkap. Dengan demikian, siswa dapat terus melanjutkan pendidikannya.
Sri Sulandari Mangunsarkoro (Sri Wulandari) lahir di Madiun, 16 Mei 1905. Semasa mengenyam pendidikan di Gouvernements Meisjes Kweekschool, Salatiga, Sri masuk Jong Java dan menjadi pemimpin Kelompok Pekerjaan Tangan Keputrian Jong Java cabang Salatiga. Pada 1920, dia dipercaya menjadi ketua Keputrian Jong Java. Selain berjuang untuk kemerdekaan bangsa, Nyi Mangunsarkoro juga berjuang mengatasi masalah keperempuanan di era kolonial, pendidikan, dan pernikahan.
Sri Wulandari memikirkan pendidikan perempuan. Menurutnya, pendidikan untuk anak perempuan sangat penting sehingga mereka perlu diberi akses sama luasnya dengan anak lelaki. Pendidikan untuk anak perempuan mestinya tidak sebatas tingkah laku tapi juga pelajaran yang diterima anak lelaki, seperti pengetahuan umum dan bahasa Belanda. Selain berjuang untuk kemerdekaan, perempuan juga menjadi seorang ibu yang akan mendidik anak-anaknya dengan jiwa nasionalisme. Pendapat Sri Wulandari ini kemudian dikenal sebagai konsep Ibu Bangsa yang dibawa gerakan perempuan pada masa kolonial untuk memperjuangkan pendidikan bagi anak perempuan.
Pada Kongres Perempuan Indonesia (KPI) III tahun 1937, para perempuan secara serius membahas tentang perlindungan pada perempuan dan anak, terlebih dalam perkawinan dan poligami sewenang-wenang. Kongres memutuskan untuk membentuk Komite Perlindungan Kaum Perempuan Indonesia (KPKPI). Sri Wulandari dipercaya menjadi pemimpinnya. Sri Wulandari punya prinsip menolak poligami sewenang-wenang yang marak dilakukan di masanya. Menurutnya, poligami bersumber dari kurangnya pengetahuan tentang derajat manusia dan juga kelemahan dalam menahan hawa nafsu. Sementara, perempuan menanggung akibatnya karena menimbulkan kecemburuan dan persaingan tak perlu antarsesama perempuan.
Ny. Raden Nganten Siti Sukaptinah Sunaryo Mangunpuspito (Yogyakarta, 28 Desember 1907) adalah salah satu tokoh wanita anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada tahun 1944 dan pada saat itu juga menjadi kepala Bagian Wanita (Fujinkai) di Kantor Pusat Jawa Hokokai, Jakarta. Sukaptinah sejak muda telah aktif berperan dalam pergerakan kebangsaan dan pengembangan organisasi wanita di Indonesia. Sepak terjang Sukaptinah dalam gerakan perempuan terkenal sejak era kolonial.
Selain aktif di berbagai organisasi, seperti mengikuti kongres perempuan sejak pertama diadakan, Sukaptinah ikut membidani beberapa organisasi perempuan seperti Istri Indonesia. Sukaptinah ikut membubarkan Fujinkai dan menggantinya dengan Perwani (Persatuan Wanita Indonesia) yang merupakan fusi dari beberapa organisasi perempuan. Siti Sukaptinah memiliki peran dalam mendorong dan menggerakan arah perjuangan perempuan pada advokasi pemerintahan. Siti Sukaptinah yang kemudian menjadi anggota DPR RI pada tahun 1955 merupakan sosok ibu bangsa yang memperjuangkan kepentingan perempuan untuk masuk ke dalam agenda pemerintahan.
Mr. Hajjah Raden Ayu Maria Ulfah atau Maria Ulfah Santoso atau Maria Ulfah Soebadio Sastrosatomo (lahir di Serang, Banten, 18 Agustus 1911) atau dahulu dikenal sebagai Maria Ulfah Santoso adalah salah satu mantan Menteri Sosial pada Kabinet Sjahrir II. Maria Ulfah diangkat sebagai Menteri Sosial pertama RI. Peran Maria Ulfah juga penting saat menjadikan Linggarjati sebagai tempat perundingan antara Indonesia dan Belanda.
Maria Ulfah adalah perempuan Indonesia pertama yang meraih gelar sarjana hukum, memangku jabatan menteri dan anggota Dewan Pertimbangan Agung. Di Belanda, Maria Ulfah pernah menjadi anggota perhimpunan mahasiswa/I Leiden, Vereeniging van Vrouwelijke Studenten Leiden (VVSL). Keinginan untuk ikut serta dalam gerakan emansipasi wanita berubah menjadi perjuangan menuju emansipasi dan kemerdekaan bagi seluruh bangsa Indonesia.
Ide, pemikiran, cara kerja, dan aktivitas yang dilakukan oleh perempuan Indonesia dalam sejarah Indonesia tidak terbatas dari nama-nama yang sudah dinarasikan sebelumnya. Masih banyak perempuan-perempuan Indonesia yang menoreh semangatnya untuk tidak hanya memberdayakan kaum perempuan tetapi juga membela kebesaran bangsa Indonesia. Sehingga sudah saatnya menyatakan “many steps of women for more giant leaps for people”.