Pustaka Lestari

Sejarah Puputan Bayu Blambangan

 

Kerajaan Blambangan merupakan kerajaan bercorak Hindu terakhir di Pulau Jawa. Kerajaan ini lahir pada 1295, dua tahun setelah Majapahit berdiri. Raja Majapahit, Raden Wijaya memberikan Istana Timur ini kepada Arya Wiraraja (adipati Sumenep) dengan ibukota di Lumajang, karena telah membantu perjuangannya mendirikan Majapahit. Setelah keruntuhan Majapahit pada abad-15, Kerajaan Blambangan mampu bertahan hingga abad ke-18.

Selama tiga abad pasca keruntuhan Majapahit, Blambangan kerap diliputi peperangan karena diperebutkan kerajaan-kerajaan yang memiliki dua faksi politik berbeda. Di barat, ada kerajaan Demak dan Mataram Islam serta kerajaan-kerajaan Hindu di Bali (Gel-gel, Buleleng dan Mengwi) di bagian timur.

Bali sangat berkepentingan terhadap Blambangan sebagai benteng terakhir untuk menghambat ekspansi Islam di Jawa yang digencarkan Mataram. Selain itu, Blambangan yang menjadi lumbung padi itu dibutuhkan untuk meningkatkan perekonomian Bali. Demak menyerang Panarukan (bagian Blambangan) saat dipimpin Sultan Trenggono. Namun Blambangan gagal ditaklukan, bahkan pada 1546, Sultan Trenggono wafat dalam penyerangan itu.

Di bawah Sultan Agung, Mataram menyerang Blambangan berturut-turut pada tahun 1635 , 1636 hingga 1640. Blambangan yang saat itu di bawah kekuasaan Kerajaan Gelgel, Bali, mampu ditaklukan. Namun Sultan Agung tidak pernah menempatkan orangnya sendiri menjadi penguasa di Blambangan. Tak lama kemudian, Blambangan diambil alih oleh Buleleng. Akhir abad keenam belas, misionaris Portugis sempat mendarat pula di Panarukan. Bangsa Eropa, VOC Belanda dan Inggris juga berupaya menaklukan Blambangan satu abad kemudian

Berbagai peperangan melawan ekspansi dari luar itu, membuat pusat Kerajaan Blambangan berpindah hingga enam tempat. Dimulai masa Arya Wiraraja di Lumajang, kemudian ke Panarukan (sekarang masuk Situbondo) dan Kedawung (sekitar Jember). Berikutnya, pusat kerajaan semakin terdesak ke pedalaman Banyuwangi. Yakni, di Macan Putih (kecamatan Kabat), Lateng (Kecamatan Rogojampi), Ulupampang (Muncar) dan terakhir di kota Banyuwangi.

Blambangan masuk dalam masa damai tanpa peperangan ketika ibukotanya di Macan Putih yang dipimpin Raja Tawang Alun II (1655-1692). Raja inilah yang sekaligus membawa Blambangan dipuncak kejayaan lepas dari kekuasaan Mataram dan Bali. Sebelum bernama Macan Putih, desa ini bernama hutan Sudiamara. Sekitar tahun 1665, raja Blambangan ke VIII yakni Tawang Alun II Danureja, menjadikan daerah yang subur ini sebagai ibu kota kerajaan.

Untuk menghormati Raja Tawang Alun II, masyarakat setempat membangun sebuah sanggar pamujan atau tempat semedi. Menurut Nuruddin, si juru kunci, tempat ini dibangun sekitar tahun 1968. Bangunannya berupa pendopo kecil berkeramik dan bertirai putih. Di tengahnya tertanam sebuah batu, dengan dua buah payung. Tempat seluas hampir satu hektar ini dikeliling tembok setinggi dua meter.

Setelah kematian Tawang Alun II, Blambangan kembali di bawah kekuasaan Bali, yakni Kerajaan Buleleng dan Mengwi (1697-1764). Cucu Tawang Alun Pangeran Adipati Danureja (1698-1736), dilantik sebagai Raja Blambangan dan membangun pusat istana di Kebrukan, Lateng (sekarang masuk Kecamatan Rogojampi, Banyuwangi). Danureja dipaksa raja Buleleng untuk memerangi Mataram dan sekutunya. Namun pada 1726, Buleleng berperang dengan Mengwi yang berakhir dengan kekalahan Buleleng. Akibatnya, Buleleng terpaksa menyerahkan Blambangan ke Mengwi.

Hampir selama satu abad pendudukan Mengwi, ribuan orang Bali menyebrang selat dan menetap di Blambangan. Sementara wilayah Blambangan bagian barat, seperti Lumajang, kata Margana, dicaplok oleh Surapati yang telah menjadikan pasuruan sebagai wilayah kekuasaanya. Inilah yang membuat mengapa budaya masyarakat Banyuwangi saat ini lebih dekat dengan pengaruh Bali ketimbang Jawa pada umumnya.

Pada 1743, Raja Mataram Pakubuwana II menyerahkan Blambangan kepada VOC sebagai imbalan telah merebut Ibukota Kartasura dari tangan pemberontak. Namun VOC tak segera melakukan pendudukan karena terseret ke konflik Mataram yang tak kunjung selesai hingga tahun 1757.

VOC baru melakukan ekspedisi militer ke Blambangan ketika mengetahui rivalnya, Inggris meluaskan usaha dagangnya ke wilayah ini. Pada Agustus 1766, tiga kapal Inggris dan seratus lebih kecil kapal milik Bugis dan Madura tiba di Blambangan di bawah komando Edward Coles. Mereka bertukar opium dan kapas dengan beras dan kayu. Kehadiran Inggris ini membuat Pelabuhan Ulu Pampang Blambangan, di sekitar Selat Bali, menjadi ramai. Banyak pedagang dari berbagai etnis, seperti Bugis, Mandar, Cina, Melayu dan Jawa secara teratur berkumpul di sana.

Ekspedisi militer VOC pertama kali diluncurkan pada Februari 1767. VOC menyertakan sekutunya dari Kerajaan Mataram (Sultan Mangkubumi), Pasuruan, Banger, Surabaya, dan Madura. Kedatangan pasukan koalisi VOC ini disambut gembira oleh rakyat Blambangan yang ingin melepaskan diri dari Bali. Mereka berharap VOC membuat masa depan Blambangan lebih baik. Kemudian terjadilah pembunuhan besar-besaran terhadap orang Bali, terutama dilakukan orang-orang Bugis di Blambangan yang membantu VOC. Ribuan orang Bali lainnya melarikan diri ke Bali. Hanya dalam satu bulan, VOC dengan mudahnya menduduki Blambangan.

Namun euphoria terhadap kehadiran VOC itu hanya berlangsung singkat. Empat bulan setelah VOC menjalankan administratifnya di Blambangan, muncul pemberontakan yang dipimpin Wong Agung Wilis. Wilis adalah saudara tiri dan mantan patih raja terakhir Blambangan, Pangeran Adipati Danuningrat (1736-1764). Pemberontakan Wilis itu mendapat dukungan luas dari penduduk lokal serta etnis lain seperti Bugis, Melayu, Sumbawa, dan Cina. Wilis memenangkan hati rakyat karena menyerukan boikot terhadap kerja rodi yang diberlakukan VOC. Pemberontakan Wilis ini berlangsung setahun yang berakhir dengan penangkapan Wilis di tahun 1768. Wilis dan pengikutnya dibuang ke Pulau Banda.

VOC kemudian menunjuk keluarga bupati Surabaya menjadi bupati Blambangan pada 1771 sebagai bagian membantu Jawanisasi dan Islamisasi di Blambangan. Tujuannya, untuk memutus Blambangan dengan Bali. VOC menganggap, setiap pemberontakan rakyat Blambangan selalu mendapat bantuan kerajaan-kerajaan Bali. Rakyat Blambangan sendiri tidak begitu suka dengan bupati Jawa karena korup. Di periode ini kondisi Blambangan diliputi sentiment anti Jawa dan anti Islam.

Pemberontakan terbesar meletus di bawah pimpinan Susuhunan Jagapati, yang membangun benteng di Bayu (kini masuk Kecamatan Songgon, Banyuwangi). Ribuan rakyat Blambangan berbondong-bondong meninggalkan desanya bergabung dengan pasukan Jagapati. Kerajaan Mengwi juga mengirimkan bantuan pasukannya. Pertempuran pecah pada 18 Desember 1771 yang berakhir dengan kemenangan pasukan Jagapati. Pimpinan VOC, Vaandrig Schaar dan Cornet Tinne tewas. Ratusan prajurit Madura yang dibawa VOC juga nyaris tanpa sisa.

Kemenangan Blambangan ini dibalas setahun kemudian. VOC mendatangkan ribuan prajurit tambahan dari Madura, Surabaya, dan Besuki. Untuk mengatrol pasukan Jagapati, VOC mendirikan benteng di dekat Bayu. Lumbung-lumbung padi milik pasukan Jagapati dibakar, sehingga kelaparan akut menyerang rakyat Blambangan. Disusul kematiaan dan merebaknya wabah penyakit. Pasukan Jagapati terus berkurang. Pada 11 Oktober 1772, pasukan Jagapati dipatahkan.

Jagapati sendiri tewas dalam pertempuran itu. Sementara tubuh dan kepala prajurit Blambangan yang tewas digelantungkan di pepohonan sekitar benteng. Ini adalah peperangan tersadis dalam sejarah Indonesia. Masyarakat Banyuwangi menyebut peperangan ini sebagai Puputan Bayu. Meminjam istilah dari Bali, puputan berarti perang habis-habisan. Populasi rakyat Blambangan menyusut drastis akibat perang ini, dari 80 ribu jiwa menjadi hanya 8 ribu jiwa.

Perang yang berkecamuk di ujung timur Pulau Jawa dan berpuncak pada 18 Desember 1771, hari ini tepat 247 tahun silam, ini memang sangat kejam dan meninggalkan trauma yang mendalam. Puputan Bayu mengakibatkan puluhan ribu jiwa melayang.

Untuk mengenang peperangan ini, pada 2004 lalu Pemerintah Banyuwangi membangun monumen Puputan Bayu, di pintu masuk Desa Bayu, Songgon. Sementara tempat peperangannya sendiri berada 5 kilometer dari monument, berupa sebuah rawa di kaki Gunung Raung yang dikelilingi hutan pinus seluas delapan hektar. Daerah yang bernama Rowo Bayu ini menjadi tujuan wisata alam. Masyarakat Hindu di Banyuwangi maupun Bali juga menjadikan Rowo Bayu sebagai tempat bersuci maupun semedi.

Blambangan memulai periode baru pasca pemberontakan Jagapati. Karena wabah penyakit dan faktor keamanan, ibu kota Blambangan dipindahkan ke Ulupampang (kini Muncar). Tak ingin mengulang kesalahan, VOC kemudian memilih bupati Islam keturunan Blambangan, Mas Alit, yang bergelar Raden Tumenggung Wiraguna. Kehadiran Mas Alit diterima luas oleh rakyat Blambangan, karena berasal dari keluarga yang dihormati. Ayahnya adalah bekas kepala menteri Pangeran Danuningrat, raja terakhir Blambangan. Yang paling penting bagi VOC, Mas Alit belum pernah menjalin aliansi dengan orang Bali. Sejak berusia 6 tahun, Mas Alit telah dibawa ke Madura oleh Panembahan Madura Cakradiningrat.

Kabupaten Blambangan kemudian dipecah dua dengan Gunung Raung sebagai batas. Blambangan barat terdiri atas empat kabupaten baru yakni Jember, Prajekan, Sentong (sekarang Kabupaten Bondowoso) dan Sabrang atau Renes yang dipimpin mantan patih Bupati Surabaya, Sumadirana. Sementara Blambangan timur yang dipimpin Mas Alit terdiri atas tiga kabupaten baru yaitu Ketapang, Ulupampang dan Grajagan (saat ini ketiganya masuk Kabupaten Banyuwangi).

Sisa-sisa keraton Blambangan di Ulupampang masih bisa disaksikan di Desa Tembokrejo, Muncar. Ada dua situs di sana, yakni, Situs Umpak Songo dan Situs Sitihinggil. Situs Umpak Songo artinya sembilan penyangga. Situs ini berupa reruntuhan yang menyisakan 49 batu besar dengan sembilan batu diantaranya berlubang di bagian tengah. Batu yang berlubang itu diduga kuat berfungsi sebagai umpak atau penyangga. Diduga, Situs Umpak Songo itu adalah bekas balai pertemuan. Sedangkan Situs Sitihinggil dulunya dipakai VOC untuk memata-matai musuh dari Bali yang menyebrang melalui Selat Bali.

Karena wabah penyakit pula, akhirnya ibu kota Blambangan dipindahkan ke Banyuwangi. Bupati Wiraguna atau Mas Alit bersama rombongan pindah ke Banyuwangi pada 20 November 1774 tengah malam. Mereka tiba sekaligus menempati ibu kota kabupaten yang baru pada keesokan harinya, 21 November 1774. Mas Alit menjadi bupati Blambangan terakhir sekaligus bupati Banyuwangi pertama. Kraton Mas Alit itu kini menjadi pendopo kabupaten. Blambangan kemudian menjalani kehidupan baru sebagai daerah Islam bernama Banyuwangi.

  *Diolah dari berbagai sumber oleh tim Wakil Ketua MPR RI